Bahasa
sebagai instrumen komunikasi yang digunakan anak, dan kedua anak sebagai
pengguna dan pemakai bahasa. Dari segi bahasa kita dapat amati bahwa sifat
bahasa sangat dinamis dan cenderung mengalami perubahan. Sedangkan dari segi
pengguna bahasa, kita juga dapat amati adanya dinamika bahasa yang terjadi pada
anak secara terus menerus. Oleh karena itu perubahan bahasa bersifat
resiprokal, terjadi secara timbal balik antara bahasa dan pemakainya. Bahasa
juga merupakan produk budaya manusia yang hidupnya selalu dinamis, kreatif, dan
cenderung tidak statis. Begitu pula dengan perubahan bahasa yang terjadi pada
masa anak-anak, sifat resiprokal tersebut juga tidak bisa dihindarkan. Bahasa
selalu akan mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan pemikiran dan
kebutuhan manusia sebagai pemakai bahasa.
Perubahan
Bahasa Pada Masa Pra-Pasca Pubertas
Dalam
kajian sosiolinguistik, perubahan bahasa dikemukakan dengan dua mainstream. Pertama,
berdasarkan pandangan tradisional, dan Kedua berdasarkan pandangan modern.
Dalam pandangan Wardhaugh, kelompok pertama diwakili oleh Ferdinand De Saussure
dan Bloomfield yang berpendapat bahwa perubahan bahasa terjadi karena sebab
perbedaan struktur melalui proses waktu yang sangat lama. Oleh karena itu jika
terjadi perubahan bahasa, prosesnya terjadi karena factor internal dan lebih
disebabkan karena faktor-faktor yang bersifat struktural. Berbeda dengan
pandangan tradisional, para linguis modern, yang diwakili oleh Wardhaugh6 dan
Holmes ahli sosiolinguistik berpendapat bahwa perubahan bahasa terjadi karena
adanya faktor internal dan eksternal. Perubahan internal terjadi dari dalam
bahasa itu sendiri, seperti berubahnya sistem fonologi, morfologi, sintaksis,
atau tataran lainnya. Sedangkan perubahan eksternal merupakan perubahan bahasa
akibat adanya pengaruh dari luar, seperti peminjaman atau penyerapan unsur
bahasa (kosa kata) lain. Selain karena alasan peminjaman bahasa dan imposition,
perubahan eksternal terjadikarena adanya perbedaan kelas sosial, ekonomi, batas
wilayah, usia, dan jender.
Cara
Terjadinya Perubahan Bahasa Pra-Pasca Pubertas
Menurut
Holmes, perubahan bahasa terjadi melalui 3 (tiga) cara. Pertama penyebaran
dari satu
kelompok
masyarakat ke kelompok lain (from group to group). Semakin luas jaringan
social penutur bahasa maka perubahan bahasa juga semakin menyebar.10 Kedua,
dari gaya bahasa ke gaya bahasa lain (from style to style)..Ketiga, perubahan
bahasa dapat terjadi melalui ‘penyebaran’ (diffusion). 11 Bila
mengacu pada teori Holmes tentang lexical diffusion, teori ini
menjelaskan bahwa perubahan bunyi tidak hanya dapat menyebar melalui proses
peralihan satu kelompok ke kelompok lain atau dari satu gaya bahasa ke gaya
bahasa lain, melainkan juga dapat melalui penyebaran dari satu kata ke kata
lain (from word to word).
Bahasa
dan Pikiran Pra-Pasca Pubertas
Sejak
muncul hipotesis Sapir-Whorf tentang linguistic determination (bahasa
menentukan pikiran) kontroversi mengenai hakikat bahasa dan pikiran kian
semakin marak. Perdebatan para ahli seputar tentang apakah bahasa mempengaruhi
pikiran, apakah pikiran yang mempengaruhi bahasa, atau bahasa dan pikiran
saling mempengaruhi satu sama lain. Perdebatan tersebut mengundang dua kelompok
besar yaitu yang setuju pada hipotesis Sapir-Whorf dan kelompok yang kontra
dengan hipotesis tersebut. Hipotesis Whorf menunjukkan bahwa bahasa dan pikiran
itu sangat bertalian dan berhubungan. Bahasa anak yang mengalami masa transisi
bersifat resiprokal dengan pikirannya. Karenanya bahasa pada masa pasca
pubertas dapat mempengaruhi pikiran dan pikiran juga dapat mempengaruhi
perubahan bahasa seseorang.
Kesantunan
Bahasa Pra-Pasca Pubertas
Kesantunan
bahasa anak pada masa pasca pubertas tidak dapat dilihat melalui norma
kesantunan semata tapi juga harus melihat factor solidaritas bahasa teman-teman
sebaya bagi penutur dan petutur dalam prinsip kerjasama tuturan.

Komentar
Posting Komentar